Gue bukan orang yang gampang percaya sama hal-hal ribet soal kesehatan. Dulu, tiap dengar kata "hidrasi" atau "stretching", kuping gue langsung kebal. Buat gue, yang penting jalan, sampai tujuan, selesai urusan. Toh badan masih muda, masih kuat. Eh, ternyata tiga tahun terakhir ini gue cukup sering keluar kota, naik bus malam, kereta ekonomi, kadang nebeng mobil teman sampai 8 jam. Dan di situlah gue mulai belajar hal-hal yang nggak pernah gue duga.
Duduk Terlalu Lama Itu Nggak Ada Lucunya
Kejadiannya sederhana. Gue naik bus dari Jakarta ke Semarang, duduk manis di kursi paling pojok, sambil pegang HP dan camilan. Enam jam kemudian, gue turun dan hampir jatuh. Kaki gue kesemutan parah, pinggang kaku, dan kepala pusing. Gue kira cuma kecapekan biasa. Ternyata kejadian serupa terulang di perjalanan berikutnya, malah makin parah.
Dari situ gue mulai cari tahu. Ternyata duduk diam lebih dari 2-3 jam tanpa bergerak itu bikin aliran darah melambat, otot kaku, dan badan jadi lemas. Bukan cuma soal pegal-pegal, tapi juga bikin kita gampang lelah seharian setelahnya. Sejak itu, gue biasain diri berdiri sebentar tiap 1-2 jam. Kalau di bus, ya minimal ke toilet, atau geser-geser posisi duduk. Kalau di kereta, gue jalan ke gerbong sebelah. Sepele, tapi efeknya kerasa banget di badan.
Ada satu tips yang gue anggap paling ngebantu: gerakan kaki kayak lagi ngegas motor sambil duduk. Kelihatan aneh, tapi lumayan bikin darah jalan. Nggak perlu alat, nggak perlu tempat luas.
Baca juga: Mahasiswa Perantau: Sakit Maag vs Pola Makan Kacau, Mana Lebih Dulu?
Air Putih Itu Bukan Sekadar Formalitas
Ini yang paling gue sesali. Dulu, tiap perjalanan jauh, gue sengaja ngurangin minum biar nggak bolak-balik ke toilet. Logikanya, biar nggak repot. Ternyata logika itu salah besar. Akibatnya, badan gue lemes, kepala nyut-nyutan, dan kulit jadi kering. Pernah sekali gue hampir pingsan di stasiun karena dehidrasi ringan. Malu banget, tapi itu jadi pelajaran mahal.
Sejak kejadian itu, gue selalu bawa botol air sendiri. Nggak perlu mahal, botol plastik biasa juga cukup. Yang penting isi ulang. Gue juga biasain minum segelas air sebelum berangkat, dan satu gelas lagi tiap kali turun dari kendaraan. Kelihatan remeh, tapi badan gue sekarang jauh lebih segar waktu sampai tujuan. Nggak lagi tiba-tiba lemas atau pusing.
Kebiasaan kecil yang gue pelajari: jangan pernah nunggu haus buat minum. Haus itu tanda badan udah telat.
Makan Sembarangan di Jalan Itu Jebakan
Nah, ini yang paling sering gue lakuin dulu. Begitu turun dari bus, langsung cari gorengan, mie instan, atau minuman manis dingin. Alasannya klasik: "Biar semangat, biar nggak ngantuk." Padahal efeknya kebalikan. Perut gue jadi kembung, badan lemas, dan besoknya malah makin capek.
Gue mulai sadar waktu suatu kali gue harus presentasi pagi-pagi setelah perjalanan malam. Perut gue nggak nyaman, badan nggak fit, dan hasilnya jelek. Dari situ gue ubah pola. Sekarang gue biasain bawa camilan sederhana kayak pisang, kacang, atau roti gandum. Nggak mahal, nggak ribet, dan nggak bikin perut kaget. Kalau mau makan berat, gue pilih yang lebih "aman" kayak nasi sama lauk rebus atau sup.
Gue nggak bilang harus super ketat. Kadang gue masih beli gorengan, tapi porsinya kecil dan nggak tiap perjalanan. Yang penting, badan nggak kaget terus-terusan.
Hal Kecil yang Sering Dilupakan
Selain tiga hal di atas, ada beberapa kebiasaan kecil lain yang ternyata ngaruh banget buat gue:
- Tidur cukup sebelum berangkat. Dulu gue pikir tidur di jalan bisa gantiin tidur malam. Ternyata nggak. Badan tetap lelah kalau kurang tidur.
- Cuci tangan atau bawa hand sanitizer. Sederhana, tapi bikin gue jarang sakit perut setelah perjalanan.
- Pakai alas kaki yang nyaman. Bukan soal gaya, tapi soal kaki yang nggak pegal setelah jalan jauh di terminal atau stasiun.
- Jangan langsung tidur setelah sampai. Gue biasain jalan santai 10 menit dulu, biar badan nggak kaku.
Pelajaran yang Gue Dapat
Kalau dipikir-pikir, semua ini bukan hal baru. Semua orang tahu air putih penting, tahu duduk lama nggak baik. Tapi yang bikin beda adalah pengalaman langsung yang bikin gue akhirnya peduli. Dulu gue cuma tahu di kepala, sekarang gue tahu di badan.
Yang paling gue syukuri: perubahan ini nggak butuh biaya besar. Nggak perlu gym, nggak perlu alat mahal. Cukup bawa botol air, biasain berdiri tiap 1-2 jam, dan pilih camilan yang lebih aman. Sepele, tapi efeknya kerasa banget buat gue yang sering jalan jauh.
Kalau kamu juga sering bepergian, coba deh mulai dari satu kebiasaan kecil dulu. Nggak perlu langsung sempurna. Gue aja butuh berbulan-bulan buat konsisten. Yang penting, badan kita dengerin kok. Kalau kita rawat sedikit lebih baik, hasilnya bakal kerasa di perjalanan berikutnya.
Dan percayalah, nggak ada yang lebih nyesek daripada sampai di tujuan tapi badan udah nggak bisa diajak kerja sama. Jadi, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.