Jam tiga pagi. Anak gue yang pertama baru saja berumur enam minggu, dan dia lagi rewel parah. Istri gue udah tidur karena besok harus kerja, jadi gue yang jaga. Sambil menggendong dia bolak-balik di kamar, gue sadar satu hal: badan gue pegal semua, kepala pusing, dan gue baru ingat kalau seharian tadi gue cuma makan sepotong roti sambil berdiri.
Waktu itu gue pikir, "Ah, namanya juga orang tua baru, wajar capek." Tapi ternyata enggak sesederhana itu. Beberapa bulan kemudian, setelah gue mulai memperhatikan hal-hal kecil yang gue lakukan (atau lupakan) setiap hari, badan gue jauh lebih tahan banting. Bukan karena gue minum suplemen mahal atau ikut program fitness. Justru karena kebiasaan-kebiasaan receh yang dulu gue anggap sepele.
Kalau kamu sedang di fase yang sama — begadang, popok, dan kopi dingin — ini yang gue pelajari pelan-pelan.
Makan Sambil Berdiri Itu Musuhnya Orang Tua Baru
Ini kebiasaan yang paling sering gue lakukan tanpa sadar. Anak nangis, susu harus segera dibuat, dan makanan di meja jadi dingin. Akhirnya ya sudah, makan sambil berdiri di dapur, buru-buru, sambil kuping mendengar apakah bayi udah tenang atau belum.
Masalahnya bukan cuma soal nutrisi. Makan buru-buru sambil berdiri bikin kamu enggak sadar berapa banyak yang masuk ke mulut, dan sering kali pilihannya jatuh ke makanan instan yang gampang. Gue pernah seminggu penuh cuma makan mi instan dan telur. Hasilnya? Badan lemas, mood jelek, dan gue jadi gampang marah ke hal-hal kecil.
Yang gue ubah cuma satu: duduk selama lima menit waktu makan. Enggak harus lama, enggak harus mewah. Kalau bayi lagi tidur, langsung duduk dan makan. Kalau bayi bangun di tengah makan, ya sudah, taruh piring, urus bayi, nanti lanjut lagi. Tapi minimal lima menit pertama itu gue duduk.
Kedengarannya remeh. Tapi lima menit duduk sambil makan itu yang bikin gue enggak gampang tumbang di minggu-minggu awal.
Tidur Enggak Bisa Ditawar, Tapi Bisa Diakali
Ini yang paling sering disalahpahami. Banyak orang tua baru (termasuk gue dulu) berpikir, "Ya namanya juga punya bayi, tidur ya kurang." Betul. Tapi kurang tidur yang dibiarkan terus-menerus itu bukan cuma bikin ngantuk — dia bikin sistem imun lemah, bikin kamu gampang sakit, dan yang paling bahaya, bikin emosi enggak stabil.
Gue dan istri akhirnya bikin kesepakatan sederhana: shift. Gue jaga dari jam sembilan malam sampai dua pagi, dia jaga dari dua pagi sampai tujuh pagi. Dengan begitu, masing-masing setidaknya dapat lima jam tidur utuh. Enggak ideal, tapi jauh lebih baik daripada dua-duanya bangun setiap dua jam.
Yang Perlu Diingat Soal Tidur
- Tidur siang itu bukan kemewahan, itu kebutuhan. Kalau bayi tidur, coba tidur juga — jangan malah scroll HP.
- Kafein setelah jam dua siang itu jebakan. Gue pernah minum kopi jam empat sore, dan malamnya gue melek padahal bayi lagi tidur nyenyak. Rugi banget.
- Kasur dan kamar yang gelap total itu membantu banget. Gue pasang tirai tebal, dan kualitas tidur gue naik drastis meski durasinya pendek.
Gerak Sedikit Itu Lebih Baik daripada Enggak Sama Sekali
Gue tahu, waktu punya bayi, olahraga itu kayak barang mewah. Siapa yang punya energi buat lari pagi kalau semalaman begadang? Tapi di sinilah gue belajar bahwa gerak kecil itu tetap gerak.
Gue mulai jalan kaki keliling komplek sambil gendong bayi di stroller. Cuma lima belas menit. Kadang pagi, kadang sore. Yang penting keluar rumah, kena matahari, dan badan bergerak. Efeknya bukan cuma fisik — gue jadi lebih waras secara mental. Ada rasa "gue masih punya hidup di luar popok dan susu".
Kalau kamu enggak sempat keluar, bahkan sekadar berdiri dan peregangan di kamar selama lima menit udah cukup. Yang penting jangan duduk terus. Badan itu dirancang buat bergerak, dan kalau kamu diam terus sambil ngurus bayi, punggung dan leher kamu yang bayar harganya.
Jangan Remehkan Air Putih dan Waktu Buat Diri Sendiri
Dua hal ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar banget.
Pertama, air putih. Waktu sibuk, gue sering lupa minum. Yang ada di meja cuma kopi. Akhirnya gue dehidrasi ringan tanpa sadar — kepala pusing, badan lemas, dan gue pikir itu karena kurang tidur. Padahal sebagian karena kurang minum. Sekarang gue selalu taruh botol air di dekat tempat gue biasanya nongkrong sama bayi. Setiap kali lihat, minum. Simpel.
Kedua, waktu buat diri sendiri. Ini yang paling sering diabaikan orang tua baru, dan gue termasuk. Gue dulu merasa bersalah kalau pergi sebentar buat diri sendiri. Padahal, orang tua yang kehabisan tenaga itu enggak bisa ngurus anak dengan baik. Jadi sekarang gue dan istri bergantian: satu jam buat masing-masing, entah buat tidur, baca, atau sekadar duduk di warung kopi tanpa bayi.
Kedengarannya egois? Justru sebaliknya. Kamu enggak bisa menuang dari gelas yang kosong.
Yang Paling Gue Sesali Baru Sadar Sekarang
Gue dulu fokus banget ke bayi — semua yang terbaik buat dia — sampai lupa kalau gue dan istri juga butuh dijaga. Padahal kesehatan orang tua itu fondasi. Kalau fondasinya retak, seluruh rumah ikut goyang.
Jadi kalau kamu sedang di fase awal jadi orang tua, coba cek lima hal ini: apakah kamu makan sambil duduk? Apakah kamu dapat tidur yang cukup (bukan ideal, cukup)? Apakah kamu bergerak sedikit setiap hari? Apakah kamu minum air putih? Dan apakah kamu masih punya waktu, walau sedikit, buat diri sendiri?
Enggak perlu sempurna. Gue juga masih sering lupa. Tapi kebiasaan-kebiasaan kecil ini yang pelan-pelan bikin gue masih bisa bangun pagi, masih bisa senyum ke anak, dan masih bisa jadi versi terbaik dari diri gue — meski kadang cuma modal lima jam tidur dan sepotong roti.